Sabtu, 27 Agustus 2011

HEREAFTER IN THE LOGIC OF SCIENCE


"AKHIRAT DALAM LOGIKA SAINS"

            Sebagaimana logika agama, logika ilmiah juga berkesimpulan bahwa alam semesta ini bakal lenyap. Ada dua hal yang menyebabkan lenyapnya alam semesta. Yang pertama adalah bertemunya 'langit positif' dan 'langit negatif'. Sedangkan yang kedua, adalah 'menciutnya' alam semesta setelah mengalami kondisi berkembang selama 15 miliar tahun, sehingga lenyap di pusat alam semesta. Alam semesta ini memiliki pasangan- pasangan. Dan Allah menciptakan eksistensi langit juga secara berpasangan.
            Secara umum, dikatakan bahwa alam terbentuk dari materi dan energi. Materi bisa berubah menjadi energi, dan energi bisa berubah menjadi materi, sebagaimana telah dirumuskan oleh Einstein. Sehingga seakan-akan materi adalah pasangan energi. Sesungguhnya tidak demikian. Materi bukanlah pasangan energi, meskipun keduanya bisa saling berubah.
            Energi memiliki pasangannya sendiri, yaitu energi positif dan energi negatif. Yang satunya diserap oleh struktur alam, sedangkan yang lainnya dipancarkan. Sedangkan materi, memiliki pasangan yang disebut antimateri. Energi positif jika dipertemukan dengan energi negatif akan menjadi nol. Demikian pula, materi jika dipertemukan dengan antimaterinya akan menjadi nol. Jadi yang disebut pasangan adalah jika keduanya dipertemukan akan menjadi nol atau 'setimbang'. Seperti Atas Bawah, Siang Malam, Kiri Kanan, Dulu dan Masa depan, dan lain sebagainya.
            Maka Surga dan Neraka adalah sebuah pasangan. Satunya berada di langit positif dan lainnya berada di langit negatif. Surga memancarkan energi, sedangkan Neraka menyerap energi. Surga berada di alam 'materi' dan Neraka berada di alam 'anti materi' Karena itu, Kebahagian Surga selalu digambarkan sebagai kehidupan yang 'penuh pemberian'. Berupa apa saja yang menyebabkan rasa bahagia dalam kehidupan kita di alam Akhirat. Apa saja yang kita inginkan, di sana tersedia. Sebaliknya, Neraka digambarkan sebagai kehidupan yang penuh kesengsaraan dan 'memakan' energi. Demikian banyak siksaan yang mengerikan. Dan semuanya 'menghabiskan' energi. Kenapa bisa demikian?
            Ternyata ini ada kaitannya dengan aktivitas kita selama di dunia. Jika kita berbuat baik, maka kita terus memancarkan energi positif selama di dunia. Memang berat, karena kita harus menghasilkan energi positif terus-menerus. Akan tetapi ini, ternyata menyebabkan terakumulasinya energi positif di langit positif yang menjadi wilayah Surga. Dan pada saat hidup di alam Akhirat nanti, energi positif itu memancar untuk kita. Kenapa? Sebab hukum alam telah berjalan terbalik. Jika di dunia kita banyak memberi, maka di Akhirat nanti kita akan banyak menerima. Sebaliknya, kalau di dunia kita banyak menyerap energi positif alias menghasilkan energi negatif. Maka pada saat di Akhirat nanti kita bakal banyak 'menyerap' energi negatif berupa 'siksaan-siksaan', yang setimpal dengan energi dosanya. Itulah yang terjadi pada saat kita di Neraka. Bayangkan, selama di dunia kita banyak 'mengambil' hak (menyerap energi) orang lain : berupa harta, kekuasaan, seksualitas, dan lain sebagainya. Maka, ketika alam berjalan terbalik (di Neraka Akhirat) kita harus mengembalikan energi itu secara berlipat ganda Itulah yang digambarkan oleh Allah di dalam Neraka orang yang banyak dosanya harus dibakar habis-habisan. Kenapa? Supaya dia memperoleh energi positif, untuk melunturkan energi negatif yang 'ngendon' di dalam dirinya, baik secara fisik maupun secara kejiwaan. Semakin besar dosa-dosanya, maka semakin besar pula energi negatifnya. Sehingga dia membutuhkan energi dari api Neraka yang semakin besar, untuk menetralkannya.
Maka adalah benar adanya ketika Allah mengatakan bahwa dosa-dosa yang kita perbuat selama di dunia ini sebenarnya adalah beban bagi kita ketika berada di Akhirat.
QS. Thahaa (20) : 101 "mereka kekal di dalam keadaan itu. Dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari kiamat "
QS. Al Ankabuut (29) : 13 “Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan.”
            Nah, beban itu harus 'dilepaskan' satu per satu, selama di Neraka tersebut. Hal itu berlangsung sampai dengan lunturnya dosa-dosa. yang telah diperbuatnya. Maka suatu ketika dosa-dosa, itu akan menjadi Nol, seiring usia Akhirat. Akan tetapi mereka tidak akan pernah bisa keluar dari Neraka itu.
Seperti difirmankan Allah dalam QS Al Infithaar (82) : 16 “Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari Neraka itu.”
            Sebaliknya orang-orang yang di Surga, mendapatkan balasan energi positif terus-menerus. Jumlahnya berlipat-lipat dibandingkan dengan apa yang diperbuatnya selama di dunia. Itu disebabkan oleh efek 'bunga berganda' yang dimiliki alam semesta. Sampai kapankah? Sampai energi positif yang dihasilkannya sebagai 'pahala' menjadi Nol. Dan mereka juga tidak akan dikeluarkan dari Surga itu.
QS. Al Hijr (15) : 48 “Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya.”
            Jadi, orang yang berada di Neraka akan selamanya di Neraka. Sedangkan yang di Surga akan selamanya di Surga. Tidak ada satu ayat pun yang mengatakan bahwa orang yang di Neraka, suatu ketika bisa pindah ke Surga jika dosa-dosanya sudah habis. Pemahaman ini agaknya cuma berupa 'harapan' semata. Allah mengatakan bahwa mereka akan kekal selama-lamanya, baik yang di Surga maupun yang di Neraka. Sampai dosa dan pahala mereka menjadi nol. Kapankah pahala dan dosa mereka itu menjadi nol? Ketika alam semesta sudah tidak memiliki selisih energi lagi. Dalam konteks ini, artinya, Langit Positif (Surga) dan Langit Negatif (Neraka) telah bertemu di satu titik. Ibarat deret bilangan, angka-angka positif maupun negatifnya telah ditarik bersatu menuju pusatnya : titik Nol.
            Itulah saat-saat kita semua kembali kepada 'Ketiadaan Mutlak'. Atau sebaliknya, menjadi 'Keber-Ada-an Mutlak'. Pada waktu itu, segala urusan telah kembali kepada KehendakNya semata, seperti firmanNya di QS. 11: 106 - 108. (khaalidiina fiiha maadaamatis samaawati wal ardhi illa bimaasyaa’).
            Tetapi dalam logika Sains, berapa lamakah kehidupan Akhirat bakal berlangsung? Akhirat akan berlangsung selama langit dan Bumi masih ada! Akan tetapi, apakah alam semesta akan ada terus? Tidak, karena pada periode Akhirat itu alam semesta sedang bergerak menciut menuju pusatnya! Maka Allah mengatakan, pada waktu itu Dia menggulung langit. Atau alam semesta ini seperti menggulung lembaran-lembaran kertas menuju kejadian semula. Artinya, bertitik tolak dari tempat yang sama, dulu Allah menggelar lembaran-lembaran itu, dan kini menggulungnya kembali menuju titik yang sama pula. QS. Anbiyaa’ (21) : 104 "yaitu pada hari Kami menggulung langit bagaikan menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulangnya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakan."
            Berapa lamakah proses penggulungan langit itu terjadi? Diperkirakan sekitar 15 miliar tahun, yaitu selama periode Akhirat. Logika yang dipakai adalah : jika alam semesta berkembang dari kondisi awal (Big Bang) sampai berhenti membutuhkan waktu 15 miliar tahun, maka waktu yang diperlukan untuk menciut dari kondisi berhenti menuju titik awal juga selama 15 miliar tahun. Sungguh sebuah periode yang bukan main lamanya. Karena itu, sangat masuk akal kalau Allah sangat sering menggunakan kata 'Kekal' dan 'Abadi' untuk menggambarkan lamanya periode Akhirat itu. Kalau dibandingkan dengan kehidupan manusia yang cuma puluhan tahun di dunia, memanglah kehidupan Akhirat yang miliaran tahun itu bagaikan sebuah kehidupan yang Kekal dan Abadi.
            Tapi toh demikian, Allah terus menggulung alam Semesta, bergerak menuju pusatnya. 'Ruang' dan 'Waktu' terus mengecil, mengecil, dan mengecil. Sehingga pada suatu saat nanti, sekitar 18 miliar tahun dari sekarang, alam semesta ini akan lenyap kembali seperti awal mulanya. Yang Ada hanya Allah, Sang Maha Perkasa Sumber Segala Kedamaian di Alam Semesta ...
QS. Al Qashash (28) : 88 "Janganlah kamu sembah di samping Allah, Tuhan apa pun yang lain. Tidak ada Tuhan melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali WajahNya (saja). Baginyalah segala penentuan, dan hanya kepadaNya lah kamu dikembalikan."